
Novel ini sudah berlalu lalang di hadapan saya acap kali saya mampir ke toko buku. Ingin beli tapi selalu berpikir bahwa ini akan terlalu berat dan suram. Hingga satu waktu, saya dengar novel ini akan dibawa ke layar lebar di tahun ini, tahun 2026. Saya tetapkan hati untuk membacanya.
Tidak menyangka, sang penulis, Leila S. Chudori, dapat menulis dengan semengalir itu. Pilihan diksinya dapat membuat saya larut untuk menikmati meski topik yang diangkat bukan topik yang ringan.
Kita akan dibawa sekilas tentang perjuangan anak muda melawan tiran. Dari semangat
hingga keraguan akan apakah yang mereka perjuangkan ini benar dan tidak sia sia?
Laut: Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebetulnya kita kejar?
Kinan: Kita tak ingin selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama
puluhan tahun. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal, kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak
menghargai kemanusiaan ini, Laut.
Tapi yang utama adalah, bagaimana situasi keluarga dan orang terkasih setelah
ditinggalkan para aktivis yang diculik lalu hilang? Bagaimana situasi para aktivis yang
dikembalikan dan terus dihantui pikiran “kenapa aku selamat? kenapa kawanku tidak?”
Perjalananan penyangkalan jauh lebih panjang dan kelam untuk menuju perhentian
penerimaan.
Ini gambaran kecil penyangkalan yang dilakukan Bapak dan Ibu Laut bertahun-tahun.
Setiap hari Minggu, Ibu akan memasak makanan favorit Biru Laut. Piring terhidang empat, untuk Bapak, Ibu, adik Laut (Asmara), dan Laut. Sembari Ibu memasak, Bapak selalu membersihkan buku-buku Laut di kamar agar tak berdebu. Tiap kali Asmara mencoba membuka obrolan yang sensitif dalam rangka menyinggung realita, Bapak Ibu langsung mengalihkan topik. Mereka berdua lupa, bahwa Asmara adalah anak mereka juga yang sudah luput dari perhatian dan kasih sayang mereka karena tertutupi oleh penyangkalan.
Sedih? Bingung? Marah? Silakan diselami masing-masing.
Kita tidak pernah bisa membayangkan ketika anak, kakak, adik, kekasih, dan sahabat hilang. Apakah kita harus siap menerima gambaran pahit bahwa mereka sudah tidak ada tanpa tahu rimbanya? Tanpa menyaksikan para pelaku diadili dengan putusan yang berimbang.
Tanpa kata maaf.
Sang Penyair: Kita tak perlu takut akan gelap. Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi.


Tinggalkan komentar