Turki

Turki adalah negara pertama di mana saya traveling sendiri. Kenapa memilih negara ini? Sebenarnya bukan karena kesengajaan. Ini diawali dengan business trip. Saya bergabung tim kecil untuk menjadi narasumber di salah satu konferensi internasional di Istanbul tahun 2015. Ya, tahun 2015. Kita kembali ke satu dekade atau 10 tahun yang lalu ya. Saya ingat waktu itu sudah berencana untuk bergabung dalam trip ke Beijing dan Mongolia. Namun, ternyata di waktu yang sama, saya diminta untuk berangkat ke Istanbul. Akhirnya setelah menyelesaikan tugas negara, saya pamit dan berpisah dengan tim dan memulai perjalanan solo. Saat itu awal September 2015, Turki masih dalam periode musim panas.

Cemas? Pastinya. Antusias? Tentunya. Campur aduk rasanya.

Perjalanan ini menjelajah dua kota, Istanbul dan Cappadocia. Turki di tahun 2015, nilai tukar mata uang Lira belum jatuh seperti sekarang (tahun 2025), saat itu 1 Turkish Lira (TYR) = + 5000 Rupiah (IDR). Kala itu saya membawa kurang lebih sekitar + 700 USD tunai. Agak berdebar – debar ya, tuan nona. Jadi, saya sebar di beberapa kantong. Saya benar – benar membawa seluruh tunai itu karena waktu itu saya belum dapat informasi banyak apakah semudah dan seaman itukah menarik uang tunai di ATM Turki. Istanbul memiliki dua bandara internasional. Pertama, Sabiha Gökçen International Airport (SAW) yang masih eksis sampai dengan saat ini dan berlokasi di Asia. Kedua, Atatürk Airport (ISL) bandara lama yang saat ini sudah ditutup (tidak melayani perjalanan komersial). Perjalanan internasional dan domestik saya melalui Atatürk Airport. Satu lagi, Hagia Sophia masih berfungsi sebagai museum.

Cappadocia

Saya mengawali perjalanan terbang ke Cappadocia menggunakan penerbangan domestik dengan Turkish Airlines dan menginap 3 malam. Saat itu saya memilih berangkat ke Kayseri Airport dan pulang melalui Nevsehir Airport. Sebenarnya saya lupa sih kenapa memilih rute ini. Mungkin karena jadwal pesawat, mungkin. Saya menginap di kota kecil Göreme, yang merupakan pusat penginapan, kuliner, dan belanja di Cappadocia. Dari bandara, saya sudah memesan airport shuttle dari jasa travel karena tidak ada transportasi umum menuju Göreme. Material bangunan hotel saya menginap merupakan gua, sehingga pada saat saya masuk ke dalam, pipi saya langsung dimanjakan hawa sejuk. Tidak perlu menggunakan pendingin ruangan, meskipun udara di luar sedang panas – panasnya. Informasi penduduk lokal, material bangunan gua ini membantu pengkondisian suhu ruangan sesuai cuacanya. Jika di luar cuacanya dingin, maka suhu ruangan akan hangat. Sebaliknya, jika di luar cuacanya panas, maka suhu ruangan akan sejuk. Menarik ya! Ada penjelasan ilmiah di balik ini, tapi bakal panjang kalau ditulis di sini.

Saat tiba di hotel, otak naif anak metropolitan saya waktu itu cukup terkejut melihat ternyata hotel yang saya pesan adalah hotel kecil milik keluarga yang hanya memiliki tangga kayu berderit. Ini menjadi pengalaman pertama saya mengangkat koper medium menaiki anak – anak tangga kayu (yang akhirnya melatih saya dan membawa pengalaman ke perjalanan selanjutnya di negara lain).

Tinggalkan komentar

About Me

Halo, saya Nohan, seorang pekerja kantoran yang dolan jalan – jalan (jikalau punya cukup energi, rejeki, dan waktu). Blog ini saya dedikasikan menjadi media untuk mengenang memori saya saat berkelana atau cukup bercerita dunia humor kerah putih. Ahe adalah panggilan dari beberapa kawan saya dulu yang menginspirasi nama blog ini. So, selamat datang!

Recent Articles